Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri bersama para bupati dan walikota serta para pemimpin adat berfoto bersama peserta Konferensi III Masyarakat Adat dan Pemuda I Wilayah Mamta-Tabi Tahun 2026 di Hotel Suni Sentani, Selasa (7/10/26)
SENTANI, Beritafajar7.com – Masyarakat adat di wilayah Mamta-Tabi dan pemuda yang meliputi wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sarmi dan Kabupaten Mamberamo Raya menggelar Konferensi III Masyarakat Adat dan Pemuda I Wilayah Mamta-Tabi Tahun 2026 di Hotel Suni Sentani, Selasa (7/10/26).
Konferensi yang dibuka Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri bersama para bupati dan walikota serta para pemimpin adat tersebut mengusung tema besar “Selamatkan Manusia, Tanah, Hutan & Sumber Daya Alam Papua”, dan dengan Sub Tema “Masyarakat dan Pemuda Adat Bangkit Bersatu Menjaga Kekayaan Budaya dan Alam Mamta-Tabi”.
Yulianus Dwa selaku Ketua Panitia mengungkapkan bahwa konferensi tersebut untuk membuka kran kaderisasi untuk meneruskan para tokoh dari Mamta-Tabi yang sukes di masa lalu.
“Kevakuman yang ada di organisasi Mamta-Tabi ini hampir sembilan tahun. Kami pemuda merasa ketika kevakuman itu terjadi otomatis ruang-ruang kaderisasi itu terhambat,” ungkapnya.
Dikatakan, sejumlah tokoh besar dari wilayah Mamta-Tabi telah lahir di masa lalu dan berhasil menjadi pemimpin di tingkat provinsi maupun pusat, seperti Barnabas Suebu, John Ibo, Pendeta Willem Maloali dan lain sebagainya.
“Karena saat itu mereka menjaga tatanan yang ada dengan baik. Nah kita pikir itu harus kita bangkitkan kembali sebagai bentuk menyelamatkan manusia,” ungkapnya.
Dalam konferensi tersebut, diikuti 200 lebih peserta yang terdiri para ondoafi dari wilayah Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura.
Ditegaskan, bahwa konferensi yang diagendakan berlangsung dua hari, tidak bicara soal politik.
“Yang pasti konferensi ini tidak bicara politik. Kami bicara tentang hak-hak dasar kami orang adat,” tegasnya.
Hal itu sebagaimana tersiat dalam tema, yakni selamatkan manusianya, tanahnya, dan sumber daya yang ada di wilayah adat Mamta-Tabi.
“Fokus kita bicara tentang berapa yang sudah hilang, yang sudah hilang kita harus berpikir bagaimana kehilangan itu bisa dikembalikan, kemudian yang sudah rusak bagaimana kita perbaiki alam yang sudah rusak yang tersisa itu kita harus jaga,” jelasnya.(red)

