JAYAPURA, Beritafajar7.com – Idul Adha menjadi momen perpindahan hewan dalam jumlah besar antar kabupaten/kota, terutama sapi dan kambing yang dijadikan hewan kurban.
Memastikan kesehatan hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha menjadi prioritas utama untuk menjamin kelayakan konsumsi masyarakat.
Untuk itu, para dokter dan paramedis dikerahkan untuk memantau dan memeriksa hewan-hewan kurban, baik di penampungan (antemortem) dan usai pemotongan hewan kurban (posmortem).
Salah satu dokter hewan selaku Pejabat Medik Veteriner Ahli Madya, drh. I Nyoman Polos, mengungkapkan bahwa keterlibatan tenaga medis sangat mutlak diperlukan dalam proses ini.
“Untuk memastikan sapi kurban sehat atau tidak, harus ada dokter yang memeriksa,” ungkapnya saat ditemui beritafajar7.com di Kafe Djimbaran Holtekamp, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa proses screening kesehatan hewan kurban di wilayah Jayapura dilakukan secara ketat melalui dua tahapan utama, khususnya pada fase sebelum penyembelihan (antemortem) melalui proses pemeriksaan fisik hewan sebelum dipotong.
Pengecekan dilakukan langsung di tempat penampungan hewan dan masjid-masjid.
“Ciri-ciri sapi kurban yang sehat dan layak kurban berdasarkan standar medis adalah sapi bergerak aktif dan lincah, kuping dan hidung kering, mata bersinar jernih,” ungkapnya.
Selai itu, juga tidak cacat fisik dan tidak pincang, nafsu makan bagus, minimal sudah berusia dua tahun.
Kabar baiknya, drh. Nyoman memastikan bahwa pasokan hewan kurban di tanah Papua saat ini berada dalam kondisi aman dari berbagai ancaman penyakit endemik yang berbahaya.
“Di Papua bebas penyakit hewan menular strategis, seperti antraks, LSD (Lumpy Skin Disease), Coccidiosis, dan tuberculosis,” pungkasnya.
Dengan jaminan tersebut, masyarakat Papua diimbau tidak perlu panik dan bisa lebih selektif dalam memilih hewan kurban sesuai dengan ciri-ciri klinis yang telah dipaparkan.(yat)

