Dadang Suryama yang mengelola Kios Ayam Potong Mas Deny saat menunjukkan dua QRIS yang memudahkan transaksi dengan konsumennya
JAYAPURA, Beritafajar7.com – Mewarisi bisnis orang tuanya, Dadang Suryama yang mengelola Kios Ayam Potong Mas Deny kini meraih sukses berbisnis ayam potong di Pasar Induk Regional Youtefa, Abepura, Kotamadya Jayapura.
Di balik tumpukan lapak ayam potong yang kini ramai diserbu pembeli, tersimpan sebuah kisah keteguhan melintasi zaman, dari era krisis moneter hingga era digitalisasi modern.
Di lapak ayam potong yang merupakan warisan dari sang ibunda Hj. Suwarni (Alm), usahanya dirintis oleh orang tuanya sejak tahun 1989 saat pertama kali merantau dari kampung asalnya di Lamongan, Jawa Timur ke tanah Papua.
“Awalnya orang tua jualan sayur, bikin toge, tahu, dan tempe. Baru sekitar tahun 1990-an mulai coba beternak dan jualan ayam sendiri,” kenang Dadang saat ditemui awak media ini di lapak dagangannya, di Pasar Regional Youtefa, Sabtu (11/7/26).
Kesuksesan diraih setelah mampu melewati krisis moneter (krismon) pada tahun 1998 yang hampir membuat usaha keluarganya gulung tikar, dan membuat orang tua Dadang sempat terpikir untuk menyerah dan pulang kampung.
Dicerirtakan, sejak tahun 2011 usaha ayam potongnya tidak lagi beternak sendiri, melainkan bermitra dengan PT Charoen Pokphand melalui anak perusahaannya, PT Mitra Sinar Jaya (MSJ).
Setiap hari, Dadang menjemput langsung ratusan ekor ayam siap panen dari peternak binaan di wilayah Koya, Arso, Sentani, hingga Nimbokrang.
Kini, dalam sehari Dadang mampu menjual 300 hingga 400 ekor ayam potong lokal, ditambah pasokan ayam afkir musiman yang kerap dikirim hingga ke wilayah pegunungan seperti Wamena.
Guna melengkapi kebutuhan warung makan yang mencari ukuran spesifik, ia juga mendatangkan pasokan dari Surabaya.
Saat ini Dadang mampu menghidupi lima orang karyawan yang membantunya di pasar dan rumah produksi di Jalan Nuri, Kamkey, Distrik Abepura.
Sukses mempertahankan bisnis ayam potong, inspirasi nyata lahir pada tahun 2022, saat memutuskan untuk mengadopsi sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Sebelum mengenal QRIS, transaksi hampir 100 persen menggunakan uang tunai dengan risikonya yang harus diterima.
Hanya satu dua orang yang karena kebutuhan usaha meminta transaksi melalui tranfer, yang bila berbeda bank harus dikenakan biaya administrasi.
“Dulu risikonya banyak uang kotor, kusut, bahkan sobek. Di pasar ayam begini kan bisa Bapak lihat sendiri, uang pasti sering terkena cipratan air bahkan darah ayam yang nempel di tangan,” ungkap Dadang.
Kehadiran kode QR hitam-putih di lapaknya mengubahnya dan terbukti menjadi solusi yang sangat simpel, higienis, dan memberikan kenyamanan ekstra, baik bagi dirinya maupun konsumen.
“QRIS ini simpel sekali. Konsumen tinggal bayar sesuai nominal lewat HP. Kami juga tidak perlu repot lagi mencari uang kembalian kalau ada yang pakai uang pecahan besar. Lebih nyaman dan kami merasa aman,” tuturnya.
Ditegaskan bahwa dalam hal pembayaran menggunakan QRIS tidak ada biaya tambahan atau biaya admin kepada pembeli, dan tidak ada batasan harga.
“Nggak ada biaya admin. Sesuai harga yang tertera saja, itu yang dibayar. Tidak ada batas minimal beli juga,” tegas Dadang.
Kisah Dadang Suryama menjadi bukti nyata bahwa kesuksesan bukan hanya tentang seberapa lama sebuah bisnis bertahan, melainkan seberapa adaptif sang pemilik dalam memeluk perubahan demi kemudahan bersama.[yat]

